"Bersorak-sorailah,
hai si mandul yang tidak pernah melahirkan! Bergembiralah dengan sorak-sorai
dan memekiklah, hai engkauyang tidak pernah menderita sakit bersalin! Sebab
yang ditinggalkan suaminya akan mempunyai lebih banyak anak daripada yang
bersuami, firman Tuhan. Lapangkanlah tempat kemahmu, dan bentangkanlah tenda
tempat kediamanmu, janganlah menghematnya; panjangkanlah tali-tali kemahmu dan
pancangkanlah kokoh-kokoh patok-patokmu! Sebab engkau akan mengembang ke kanan
dan ke kiri, keturunanmu akan memperoleh tempat bangsa-bangsa, dan akan
mendiami kota-kota yang sunyi.” (Yesaya 54:1-3)
William Marsten seorang psikologi dari Amerika meneliti
3000 orang dan bertanya apa tujuan hidup mereka?
Hasil 94 % dari mereka
tidak mempunyai kepastian mengenai tujuan hidup mereka. Tujuan menentukan arah
sehingga orang tidak kehilangan arah dan tersesat. Tujuan hidup kita menentukan
arah mana yang akan kita tuju atau capai. Matius 13:32 mengatakan “Memang biji
itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh,
sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon,
sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya.
“Artinya segala sesuatu diciptakan Tuhan memiliki tujuan. Allah memiliki tujuan
dalam hidup kita yang harus kita jadikan tujuan hidup kita pula. Kita harus
memiliki mimpi yang besar (big dream)
dan berpikir besar (big think)
Bagaimana caranya? Kita harus senantiasa memandang Tuhan
Yesus. Mazmur 16:18-11 “ aku senantiasa memandang kepada Tuhan; karena Ia
berdiri bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan
tenteram; sebab Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati, dan tidak
membiarkan orang kudus-Mu melihat kebinasaan. Engkau memberitahukan kepadaku
jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan
kanan-Mu ada hikmat senantiasa.” Kalau kita memandang kepada Tuhan, maka kita
bisa melihat hal-hal indah yang Tuhan mau lakukan dalam hidup kita.
Contoh tokoh Alkitab
yang memandang kepada Tuhan dalam hidupnya:
1.
Elisa (2 Raja-raja 6:16-17)
Jawabnya:
“Jangan takut, sebab lebih banyak yang menyertai kita dari pada yang menyertai
mereka.”Lalu berdoalah Elisa: “Ya Tuhan: Bukalah kiranya matanya, supaya ia
melihat.” Maka Tuhan membuka mata bujanh itu, sehingga ia melihat. Tampaklah
gunung itu penuh dengan kuda dan kereta berapi sekeliling Elisa. Saat Nabi Elisa
dan kotanya dikepung, bujangnya ketakutan tetapi Elisa tetap tenang. Elisa
Tenang karena dia memandang Tuhan dan percaya Tuhan menyertai dan
melindunginya.
2.
Abraham (Kejadian 15:5-6)
Lalu
Tuhan membawa Abram keluar serta berfirman: “Coba lihat ke langit, hitunglah
bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya. “ Maka firman-Nya kepadanya:
Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.” Lalu percayalah Abram kepada Tuhan,
maka Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran. “Abraham terus
memandang Tuhan dalam segala keadaan sekalipun situasi tidak memungkinkan.
3.
Murid-Murid Yesus (Matius 14:26-32)
Ketika
murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru:
“Itu hantu!”, lalu berteriak-teriak karena takut. Tetapi segera Yesus berkata
kepada mereka: “Tenanglah! Aku ini, jangantakur!” Lalu Petrus berseru dan
menjawab Dia: “Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu
berjalan di atas air.” Kata Yesus: “Datanglah!” Maka Petrus turun dari perahu
dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus. Tetapi ketika di rasanya tiupan
angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: “Tuhan, tolonglah aku!”
Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: “Hi orang yang
kurang percaya, mengapa engkau bimbang? “Lalu mereka naik ke perahu dan angin
pun redahlah.
Memandang kepada Tuhan
Yesus dengan cara:
1.
Percaya bahwa Yesus adalah Tuhan.
2.
Selalu hidup dekat dengan Tuhan.
3.
Yesus menjadi penguasa tunggal dalam
hidup kita.
4.
Menjadi saluran berkat.
Memiliki hidup yang
maksimal dalam Tuhan dengan senantiasa memandang kepada Tuhan.



No comments:
Post a Comment
Terima kasih telah menulis komentar yang positif.