Thursday, 11 January 2018

His Ways Are Higher: SWATDI KHA (1)

09:30
Aku berkuliah di program studi yang sampai kini masih kurang populer. Kurang populer bahkan di antara bidang studi sejenisnya. Jurusan yang hingga kini masih amat familier dengan pertanyaan-pertanyaan seperti:
 “Kalo lulus nanti jadi apa?”
 “Lho, bukannya gak kuliah pun bisa belajar itu ya?
“Kenapa kamu masuk jurusan itu?”
“Harusnya kamu masuk jurusan *** aja.”
Berkali-kali aku harus menepis perasaan minder yang menyeruak karena terus-terusan diperhadapkan dengan pertanyaan dan pernyataan di atas. Berkali-kali juga aku dikuatkan oleh orang-orang di sekitarku, juga orang tuaku untuk tidak meragukan jalan yang sudah Tuhan tentukan. Bisa berkuliah di kampus ini adalah sebuah anugerah tersendiri yang tak pantas kudapatkan. Aku tak pernah bisa mengeluh setiap mengingat cara Tuhan yang ajaib sehingga dapat menempatkanku di kampus ini. Meski demikian, perasaan ragu itu tetap ada. Bahkan memasuki semester ketiga, aku semakin sering berjumpa dengan mata kuliah yang menurutku secara pribadi, membuatku semakin meragukan dan menjauh dari Tuhan. Bagaimana tidak, mata kuliah yang kupelajari sering kali mengandalkan hikmat manusia dan kalaupun menyinggung tentang Tuhan, hal-hal tersebut bertentangan dengan iman yang kepercayai selama ini. Semakin lama semakin aku mempertanyakan keputusan Tuhan menempatkanku di jurusan ini. Meski demikian, ayahku sering berkata bahwa Tuhan akan memakaiku untuk memperkenalkan Indonesia kepada bangsa-bangsa, dan aku pun mengamini hal itu. Tetapi seperti yang kukatakan, akhir-akhir ini aku mulai meragukan arah tujuanku.
Sejak awal masuk kuliah, aku mempunyai mimpi. Mimpi untuk bisa pergi ke luar negeri dengan membawa nama universitas. Orang tuaku pun mendukung mimpi itu. Terdengar sepele dibandingkan doa yang selalu ayahku ucapkan mengenai pergi ke bangsa-bangsa. Tetapi tetap saja bukan sebuah mimpi kecil yang bisa kuraih hanya dengan berdoa dan belajar giat. Paling tidak itulah yang selalu kupikirkan, mengingat keseharianku di kelas yang tidak sebanding dan sepintar teman-temanku. Satu hal lain yang sempat membuatku merasa minder adalah bahwa di antara teman-temanku, aku termasuk salah satu yang kurang menonjol dalam skill individu. Banyak dari temanku yang sudah pintar menari tarian tradisional, menyanyi lagu tradisional, biasa mementaskan pertunjukkan, menjadi MC, bahkan memiliki paket hemat, yaitu satu orang dengan banyak kemampuan di atas. Aku tidak akan heran kalau mereka didelegasikan untuk pergi ke luar negeri mewakili Indonesia, karena mereka akan tahu apa yang harus dilakukan untuk mengharumkan nama bangsa. Kalau aku? Apalah diriku, hanya seorang yang ‘kebetulan’ berdarah suku yang bidang bahasa dan sastra-nya kupelajari di kuliah. Terlalu banyak hal yang kujadikan alasan untuk meragukan kuasa Tuhan saat itu. Mana mungkin aku bisa pergi ke luar negeri dengan kondisi yang seperti ini?
Meski demikian, mimpi ini belum padam. Aku berusaha mencari informasi pertukaran mahasiswa ke luar negeri. Bahkan salah seorang kakak gereja memberiku link yang berisi program exchange ke Amerika Serikat. Saat aku membaca program itu, mataku berbinar-binar. Berbekal berani bicara bahasa Inggris, aku merasa ada harapan untuk bisa pergi ke luar negeri tanpa mengeluarkan ongkos. Merasa rendah diri dengan keadaan, tapi pada saat yang sama merasa sombong sekali dengan kemampuan yang pas-pasan. Yap, kebodohan manusia diriku. Lupa bahwa semua masih dalam seizin Tuhan. Aku pun mencoba mengisi form yang ada.
Sampai suatu saat, kepala program studi jurusanku memintaku untuk menemui beliau. Beliau bertanya apakah aku bisa berbahasa Inggris aktif? Aku menjawab ya. Paling tidak jika harus berkomunikasi dan bercakap-cakap dalam bahasa Inggris, aku masih bisa melakukannya dengan cukup percaya diri. Ini juga merupakan satu hal lagi yang sering dipertanyakan orang-orang sekitarku. Lebih lancar berbahasa Inggris, tapi malah ambil jurusan bahasa daerah. Singkat cerita, ibu kaprodi (sebutan untuk kepala program studi) bercerita bahwa aku akan dicalonkan untuk seleksi program short course di Thailand. Kaget? Iya. Bingung? Bingits. Pertanyaan demi pertanyaan bermunculan, dan beberapa saat setelahnya, aku merasa seperti sedang melakukan talkshow dengan diriku sendiri.
“Bukankah Thailand termasuk luar negeri?”
Ya iyalah.
“Lantas, impianmu terwujud dongs?”
Eh, iya ya.
“Tapi kenapa Thailand? ...dan kenapa aku?”
 Mungkin, karena wajahku mirip orang Thailand? #plak (2)
Sementara masih terbingung-bingung, orang tuaku bertanya alasanku bertemu dengan ibu kaprodi. Aku pun bercerita bahwa diriku mungkin akan pergi ke Thailand kalau Wakil Dekan acc. Bukan, lebih tepatnya kalau Tuhan acc. Singkat cerita (lagi), aku terpilih di antara ketiga calon yang diajukan ibu kaprodi. Kedua orang lainnya adalah seniorku yang kudengar sudah jauh lebih berpengalaman dalam hal-hal mewakili kampus. Bahkan salah satunya belum lama menjadi anggota volunteer ke luar negeri mewakili kampus. Hanya satu hal yang terus terngiang di kepalaku bahkan sampai hari keberangkatanku ke Thailand. Aku tidak layak. Aku tidak pantas mendapatkan kesempatan ini. Aku, orang yang terlalu banyak mengeluh dan mempertanyakan keputusan Tuhan. Orang yang kadang lebih suka mengeluh dibanding mengejar ketinggalan teman-temannya. Aku terlalu sibuk merasa rendah diri, sampai tak bisa melihat bahwa Tuhan mengangkat dan merendahkan orang-orang sesuai kebajikan-Nya. Aku terlalu sombong sampai merasa bisa menentukan langkahku, dan lupa bahwa hidupku bukanlah dalam kehendakku. Aku hanya bisa terkagum-kagum bagaimana Tuhan menggerakan potongan-potongan puzzle dalam hidupku sekedar untuk menjawab segala keraguanku. Keraguanku tentang mengapa Tuhan menempatkanku di jurusan ini. Keraguanku untuk bisa ke luar negeri dengan keadaan seperti ini. Aku bahkan tidak bisa menyombongkan diri, karena ini sama sekali bukanlah hasil usahaku. Yang terus kulakukan hanyalah menyampaikan kerinduanku pada Tuhan. Bahkan sebelum aku menyampaikannya, Tuhan terlebih dahulu mengerti isi hatiku. Bukan seperti yang kurancangkan, tetapi sesuai dengan apa yang berkenan di hadapannya. Serangkaian kejadian berikutnya pun merupakan keajaiban pekerjaan Tuhan semata. Segala proses dimudahkan bahkan seakan belum cukup, Tuhan mengirimkan orang-orang untuk memberkatiku. Program ini sepenuhnya ditanggung oleh pihak panitia, dan biaya keberangkatan-pulang ditanggung oleh pihak fakultas. Hanya uang saku yang perlu kusediakan sendiri. Dan ya, aku tak mengeluarkan sepeser pun dari dompetku, bahkan dompet orangtuaku. Seluruh uang saku merupakan kemurahan dari orang-orang yang hatinya Tuhan gerakkan untuk memberkatiku. Aku tak bisa berkata-kata. Dari kejadian ini aku benar-benar mengerti makna bahwa Kasih Karunia adalah sesuatu yang Tuhan berikan, bahkan pada saat kita berada dalam posisi yang amat sangat tidak layak untuk menerimanya. Keraguanku dihapuskan-Nya, dan pandanganku pun diubahkan. Tuhan tidak pernah membuat kesalahan. Tetap kerjakan bagian kita, dan lihat bagaimana Tuhan mengubah pertanyaan-pertanyaan kita menjadi ucapan syukur. Dia menghapuskan keraguan kita, dan menumbuhkan iman yang lebih kuat dari sebelumnya. Percayalah pada-Nya, dan tetap lakukan bagian kita.

 “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.”  -Yesaya 55:8-9
Semoga bermanfaat bagi pembaca, terutama buat teman-teman yang masih ragu sama keputusan Tuhan, entah itu soal jurusan, kampus, keadaan keluarga, dsb. Mistakes are never in His to-do list, only goodness. God bless us.
Ditulis Oleh: Kezia Permata

Saturday, 30 December 2017

PENGAJARAN DOA AKHIR TAHUN 2017 | BAGIAN DUA

09:04
Ada 3 hal yang sangat penting untuk menjadi perenungan / koreksi tahun 2017 dan komitmen bagi kita untuk menjalani tahun 2018 :
(1)               WAKTU
Terkadang bahkan sering sekali kita membuang waktu kita begitu saja ketika melewati hari demi hari. Sering kita menyadarinya ketika kita merenungkan waktu-waktu yang telah kita lewati, apalagi sekarang kita sudah ada di penghujung tahun yang kita jalani.
Hal yang sangat baik untuk kita sama-sama merenungkan sungguh-sungguh essensi dari perkataan-perkataan ini:
#) ”Waktu terus berjalan dan tidak dapat diputar
    ulang”
#) ”Hidup cuma sekali, dengan hal apakah kita akan
    mengisinya? itu semua pilihan dan keputusan kita!”
#)  ”Apapun yang kita tenun hari ini dalam waktu yang
    kita jalani, kelak akan kita pakai di kemudian
    hari”
#)  ”Hari ini adalah masa depan dari masa lalumu, dan
    hari ini juga akan menjadi masa lalu di masa
    depanmu nanti”
#)  ”Pembiaran dan penundaan selalu menuntut harga
    bayar yang jauh lebih mahal, sebab ada sejumlah
    ”bunga” yang harus kita bayar”
Musa pernah menaikkan doa untuk meminta TUHAN mengajari dia menghitung hari-hari agar dia beroleh hati yang bijaksana (Mazmur 90:12). Doa ini dinaikkan Musa ketika dia sedang ada di padang gurun. Banyak hari-hari yang telah dilewati Musa dan bangsa Israel sebagai hari-hari yang hilang dimana mereka hanya berputar-putar dan tidak ada goal / arah ke depan yang dicapainya. Apakah kita juga banyak mengalami hal yang sama? Betapa pentingnya kita memiliki hati yang bijaksana untuk menutup akhir tahun 2017, membuka dan menjalani tahun 2018. Mari bawa hidup kita merendahkan diri di hadapan ALLAH minta DIA mengajar kita bisa menghitung hari-hari (memahami pentingnya waktu) agar kita beroleh hati yang bijaksana.

(2)               PRIORITAS
Kalo kita mau jujur terhadap diri kita sendiri, sudahkah kita menjalani hari-hari di 2017 dengan prioritas yang benar? Kadang kita menganggap prioritas sebagai hal yang sepele dalam hari-hari yang kita jalani. Kita lebih sering memilih untuk mengikuti hal-hal apa yang menjadi kesukaan atau sesuai dengan mood untuk kita lakukan ketika kita bangun pagi dan menjalani sepanjang hari. Prioritas harian akan mendukung prioritas bulanan dan prioritas bulanan akan mendukung prioritas tahunan kita. Kebiasaan kita sehari-hari akan mencerminkan bagaimana kita menerapkan prioritas dalam hari-hari kita.
Firman TUHAN mengajarkan untuk kita memprioritaskan DIA diatas yang lainnya setiap hari (Matius 6:33).
Mari sama-sama jadi lebih baik di tahun yang baru tentang hal prioritas.

Mari kita sama-sama merenungkan suatu cerita berikut:
Ada seorang guru mengajar muridnya. Hari itu dia membawa beberapa peralatan untuk membantu visualisasi perkataannya. Dia berkata : ”saya bertanya kepada kalian, saya mempunyai sebuah galon aqua kosong dan saya mempunyai batu-batu besar, batu-batu kecil, kerikil, pasir dan air. Agar saya merata bisa memasukkan benda-benda ini ke dalam galon kosong ini, kira-kira bagaimana urutan benda-benda ini saya masukkan ke dalam galon aqua ini?”
Ketika memasukkan dari urutan air dulu trus pasir sampai benda yang paling besar sangat memungkinkan bahwa benda yang paling besar tidak akan bisa masuk ke dalam galon aqua tersebut.
Yang tepat adalah masukkan batu besar dulu, batu kecil, kerikil, pasir baru terakhir air.
Hal ini menggambarkan bahwa jauh lebih tepat jika kita memprioritaskan untuk mengisi hari-hari yang kita lewati dengan hal-hal yang penting terlebih dulu setiap harinya.
Mari kita bersama-sama untuk mendisiplin diri dengan prioritas yang tepat setiap harinya.

(3)               FOKUS PADA TUJUAN / VISI
Mari sama-sama kita bercermin untuk satu tahun yang hampir sepenuhnya kita lewati. Sudahkah tujuan-tujuan / target / visi kita ketika kita memasuki awal tahun 2017 itu tercapai. Istilah ”ya sudahlah yang sudah berlalu biarlah berlalu” memang seringkali menjadi perkataan klise yang sering kita ucapkan ketika waktu-waktu kita terlewatkan begitu saja tanpa tercapai nya tujuan kita. Mari kita sama-sama membenahi diri untuk memasuki tahun 2018 dengan tekad yang kuat untuk berjuang sungguh-sungguh tentang tujuan / target / visi yang kita doakan dan susun ketika kita melakukan step 2 dan 3 doa akhir tahun (pada pengajaran doa akhir tahun bagian pertama).
Setelah kita selesai berdoa dan menyusun agenda / visi 2018 untuk hidup kita masing-masing mungkin diantara visi-visi tersebut ada hal-hal yang terlihat mustahil secara manusiawi bagi kita untuk mencapainya, tapi peganglah kuat-kuat jangan mau mudah goyah sebab jika kita hidup melangkah di tahun 2018 dengan mengasihi TUHAN sungguh-sungguh, mendapat perkenanan oleh-NYA dan melakukan terbaik bagian kita, PASTI segala sesuatunya tidak ada mustahil.

Mari kita renungkan cerita ini sebagai penutup pengajaran doa akhir tahun.
Cerita tentang katak kecil
Pada suatu hari ada segerombol katak-katak kecil yang menggelar lomba lari. Tujuannya adalah mencapai puncak sebuah menara yang sangat tinggi. Penonton berkumpul bersama mengelilingi menara untuk menyaksikan perlombaan dan memberi semangat kepada para peserta.
Perlombaan dimulai...
Secara jujur :
Tak satupun penonton benar-benar percaya bahwa katak-katak kecil akan bisa mencapai puncak menara.
Terdengar suara : ”Oh, jalannya terlalu sulit!!!! Mereka TIDAK AKAN PERNAH sampai ke puncak.” ada lagi: ”Tidak ada kesempatan untuk berhasil...menara nya terlalu tinggi...!!!”
Katak-katak mulai berjatuhan, satu persatu...kecuali mereka yang tetap semangat menaiki menara perlahan-lahan semakin tinggi...dan semakin tinggi.
Penonton terus bersorak... ”terlalu sulit!!! Tak satupun akan berhasil!!!”
Lebih banyak lagi katak kecil lelah dan menyerah...
TAPI ada SATU yang melanjutkan hingga semakin tinggi dan tinggi... Dia takkan menyerah!!!
Akhirnya yang lain telah menyerah untuk menaiki menara, keculai satu katak kecil yang telah berusaha keras menjadi satu-satunya yang berhasil mencapai puncak!
Semua katak kecil yang lain ingin tahu bagaimana katak kecil ini bisa melakukannya?
Seorang peserta bertanya bagaimana katak yang berhasil mencapai menemukan kekuatan untuk mencapai tujuan??
Ternyata...
Katak yang menjadi pemenang itu TULI !!!
Kata bijak dari cerita ini adalah :
Jangan pernah mendengar orang lain yang mempunyai kecenderungan negatif atau pesimis...karena mereka mengambil sebagian besar mimpimu dan menjauhkannya darimu..
Selalu pikirkan kata-kata bertuah yang ada ini : Karena segala sesuatu yang kamu dengar dan kamu baca bisa mempengaruhi perilakumu !!!
Karena itu :
Tetaplah selalu POSITIVE !!!
Berlakulah TULI jika ada orang yang berkata kepadamu bahwa kamu tidak bisa menggapai mimpimu !!
Selalu lah berpikir :
With JESUS, my LORD, I can do this !!!
Yohanes 15:4
“Tinggallah didalam AKU dan AKU didalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal didalam AKU.”
Mazmur 91:14
”Sungguh hatinya melekat kepadaKU, maka AKU akan meluputkannya, AKU akan membentenginya, sebab ia mengenal namaKU”

MERRY CHRISTMAS 2017
and
HAPPY NEW YEAR 2018

GBu all abundantly………

-Jawatan Profetik GBI Miracle Service Yogyakarta-

Sunday, 24 December 2017

Silence of Christmas Eve

22:40
Image result for white balloon tumblr
Raden memandangnya hari ini.
Masih dari balik jendela kamarnya yang terletak di lantai dua, tentunya. Desember. Hmm, mendung rupanya tetap menjadi ciri khas bulan ini. Aman saja selama belum turun hujan. Pandangannya masih tertuju pada sosok gadis yang berdiri di bawah pohon rindang dekat halte bus yang berada di pinggir jalan tersebut. Seorang gadis dengan sweater abu-abunya yang masih sama setiap harinya, dengan rambutnya yang terurai berantakan (entah dia lupa menyisirnya atau bagaimana), raut muka yang mencerminkan bak seorang mahasiswa yang sedang dikejar deadline, ditambah sebuah balon berwarna putih di tangan kanannya.
“Kenapa harus balon dan berwarna putih? Dan kenapa juga harus di bawah pohon? Jelas dia tidak lagi berteduh kan, karena memang tidak lagi hujan”, pertanyaan-pertanyaan tersebut berlomba-lomba menyerobot masuk ke kepala Raden. Sesekali Raden mengusap kaca jendela yang mulai mengembun akibat desah nafasnya, masih memandang gadis di luar sana seakan ingin tahu apa yang akan dilakukannya.
Gadis tersebut menoleh ke kanan kiri yang jelas-jelas tidak sedang ada orang di sana. Sesekali dia berjalan ke arah halte kemudian duduk beberapa detik, kemudian berjalan kembali ke arah pohon tersebut. Sudah lima menit dia melakukan ritual tersebut, tiba-tiba dia melepaskan balon yang ada dalam genggamannya dan membiarkan terbang begitu saja. Raden hanya menganga melihat peristiwa tersebut yang terus berulang selama 3 minggu belakangan ini. Lamunan Raden terbuyarkan oleh suara dering hp-nya. Raden berusaha tidak memikirkan beberapa menitnya yang terbuang sia-sia karena ‘menonton’ adegan barusan.
Raden (masih) memandangnya hari ini. Walaupun selalu mengeluh karena beberapa menitnya terbuang sia-sia, tapi di sinilah Raden masih berdiri di balik jendela kamarnya.
Masih sama seperti hari-hari sebelumnya. Pukul li-ma so-re. Gadis itu masih dengan sweater abu-abunya, rambut terurainya yang semakin hari semakin berantakan, dan tak ketinggalan balon putih di tangan kanannya. Masih dengan pertanyaan yang sama setiap kali Raden memandang gadis  tersebut.  Tak hanya itu, muncul lagi pertanyaan baru di kepala Raden. Sampai kapan dia akan melakukan hal tersebut?
Seakan sudah hafal dengan apa yang sudah dilakukan oleh gadis itu. Raden dengan mudah menebak bagaimana proses ‘ritual’ tersebut berjalan. Pertama, gadis tersebut berdiri di bawah pohon, menengok ke kanan kirinya memastikan tidak ada orang-orang di sana dengan gelisah. Kedua, dia berjalan ke arah bangku halte dan duduk di sana sambil mengamati ujung sepatunya. Ketiga, dia bangkit dari duduknya dan kembali ke posisi semulanya. Begitu seterusnya hingga lima menit berlalu. Terakhir, dia melepaskan balon di tangannya dan membiarkannya terbang menghilang.
Raden mendesah dengan keras, namun… Raden tersenyum. Rupanya kali ini Raden sadar, sekeras apapun dia mengeluh tetap saja dia meluangkan beberapa menitnya di jam li-ma so-re untuk mengamati langsung sebuah karya Tuhan yang unik itu.
“Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan (Yesaya 53:3a)”
Seperti ada yang berbisik di telinga Raden. Senyum di wajah Radenpun menghilang dan sontak dia menoleh ke kanan kirinya mencari sumber suara tersebut dan tak mendapati seorangpun selain dirinya di kamarnya. Raden berjalan ke arah meja belajar di samping tempat tidur, menggapai sebuah Alkitab dan mulai mencari ayat yang baru saja didengarnya itu. Ditemuinya ayat tersebut sama persis dengan apa yang dia dengar.
“Dalam sekali. Tapi,… Apa maksudnya?”, bisik Raden. Tak ingin ambil pusing, Raden menutup Alkitabnya dan turun ke lantai bawah berusaha untuk melupakan kejadian barusan.
Berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Kali ini Raden tidak menyaksikan dari jendela kamarnya. Raden berlari-lari kecil karena takut terlambat menyaksikan ritual kesehariannya. Ketika dilihatnya gadis itu sudah duduk di bangku halte tersebut, refleks Raden bersembunyi di balik tembok rumah tetangganya. Raden menghembuskan nafas lega dan tertawa kecil karena menyadari dirinya tidak melewati aksi gadis tersebut. Baginya menit-menit yang dulu terasa terbuang sia-sia, kini menjadi menit-menit yang menyenangkan.
Raut muka Raden berubah. Dia mengernyitkan dahinya. Tidak! Itu tidak seperti biasanya. Gadis itu selalu melepaskan balonnya pada akhirnya. Namun, kenapa hari ini dia justru mengikat tali balon ke batang pohon dan membiarkan balon tersebut terbang seadanya? Raden menghampiri pohon tersebut dan menyadari ada sebuah gulungan kertas terikat di ujung tali tersebut. Perlahan Raden membuka gulungan tersebut dan mendapati sebuah tulisan di sana:
Hi Ibu, Bintang rindu. Satu tahun berlalu dan tiada hari yang kulewati tanpa merindukanmu. Desember, bulan paling memberatkan bagiku. Seharusnya di bulan ini orang-orang berbahagia karena lahirnya Juru Selamat kan? Kenapa aku justru kehilangan nahkoda-ku tepat di malam natal? Besok natal loh, Bu.
Masih jelas ku ingat hari waktu Ibu pergi. Ibu pergi begitu saja. Tanpa pesan. Tanpa pamit padaku. Membiarkan anakmu yang sedang merantau ini berhasil menyalahkan dirinya sendiri akibat terlalu percaya pada sandiwaramu. Kenapa harus kau katakan ‘baik-baik saja’ setiap kali aku menelponmu, padahal saat itu mungkin kau sedang tersiksa menahan rasa sakitmu. Andai saja tak ku desak ayah untuk memberi tahu alasan kepergianmu, mungkin sampai sekarang aku tetap percaya bahwa kau memang baik-baik saja. Aku hampir saja menyalahkan Tuhan atas kepergianmu. Sekarang aku tahu alasanmu selalu mengatakan bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan (Filipi 1:21). Aku yakin Ibu sedang bahagia di sana sementara anakmu masih berusaha bahagia di sini.
Satu bulan ini aku selalu datang ke tempat yang sama dan melakukan hal yang sama. Aku masih ingat waktu aku masih sekolah dan pengen banget untuk pergi ke pasar malam namun ayah selalu melarangku ke sana, ayah selalu mengatakan banyak penculik di sana. Namun, satu hari saat ayah pergi ke luar kota, ibu diam-diam mengajakku ke sana naik bus yang selalu berhenti di halte ini. Selain itu, ibu ingat tidak? Suatu hari aku pernah merengek untuk dibelikan boneka Barbie ke ayah, namun lagi-lagi ayah menolak dengan keras. Ibu yang mengajariku untuk menuliskan setiap permohonanku ke Tuhan dan mengikatnya pada sebuah balon lalu menerbangkannya. Ibu selalu berkata balon itu tau ke mana ia harus terbang dan balon tersebut akan menyampaikan suratmu ke Tuhan. Lalu, beberapa hari selanjutnya ibu memberikanku boneka Barbie dengan mengatasnamakan ayah, padahal aku tau ibu yang membelinya.
Ya, itulah yang aku lakukan selama satu bulan ini. Aku bukan meminta Tuhan  untuk mengembalikan ibu kepadaku. Namun, aku hanya ingin menyampaikan kerinduanku padamu karena rindu ini terlalu menyiksa untuk di simpan sendiri. Mulai hari ini, Bintang akan hidup dengan baik. Salamku untukmu ibu, aku mengasihimu.
“Bintang…”, bisik Raden. Dia teringat akan ayat yang ia dengarkan kemarin dan menyadari bahwa orang yang dimaksud adalah gadis tersebut. Raden memejamkan mata sejenak, mengucap syukur atas semua yang dia punya. Sebagian dari doanya terbentur ke atas langit mendung yang mulai menurunkan rintik-rintiknya, melunturkan tinta pena pada kertas yang sedang dipegang Raden itu.
Sejak hari itu, Bintang tak lagi datang ke tempat itu dan melakukan kebiasaannya lagi.


Karya : Irene.

PENGAJARAN DOA AKHIR TAHUN 2017 | BAGIAN SATU

14:45
(Teknis  Doa  Akhir  Tahun)
Menjelang berakhirnya tahun 2017, ini saat yang tepat bagi kita semua untuk membenahi dan mempersiapkan diri untuk menyambut tahun 2018.

Mari sama-sama kita merenungkan tentang janji TUHAN dalam Mazmur 65:12a (”ENGKAU memahkotai tahun dengan kebaikanMU”) ”Mahkota” sesungguhnya diberikan karena adanya prestasi atau penghargaan tersendiri atas apa yang telah dicapai oleh si penerima. Sudahkah kita memahami benar-benar apa saja sih kebaikan-kebaikan yang sangat mahal (seperti nilai ”mahkota”) yang akan TUHAN berikan yang dengan sengaja telah disiapkan oleh-NYA untuk hidup kita di tahun 2018?
Sudahkah juga kita memahami kriteria-kriteria apa saja yang akan membuat kita “layak” untuk menerima penghargaan/mahkota kebaikan TUHAN?
Sesungguhnya sangat penting bagi kita untuk mengerti rahasia ini, hidup dalam kriteria TUHAN dan meng-imani sungguh-sungguh ketika kita melangkah di 2018.
TUHAN serius akan memahkotai tahun 2018 dalam hidup kita dengan kebaikan-NYA.
Suatu usulan yang sangat baik tentang teknis doa akhir tahun untuk kita semua melakukannya :

(1)               AGENDA 28 DESEMBER 2017 – KOREKSI KESALAHAN
Lukas 5:37-38 mencatat bahwa anggur baru tidak diisikan kepada kantong kirbat yang lama, maka dari itu merupakan sesuatu yang serius untuk menyiapkan hati sebagai kantong kirbat yang baru untuk memasuki tahun yang baru.
Siapkan beberapa kertas kosong, doa sungguh-sungguh minta TUHAN pimpin kita untuk mengingat semua dosa-dosa yang telah kita lakukan, keputusan-keputusan salah yang telah kita ambil dan luka-luka dalam jiwa dan hati kita yang telah terjadi dalam hidup kita sepanjang tahun 2017 atau di tahun-tahun sebelumnya. Miliki waktu khusus untuk merenungkan dan menuliskan hal-hal tersebut disertai dengan komitmen untuk kita bertobat dan tidak lagi hidup didalam nya diwaktu-waktu mendatang. Penting untuk kita memasuki tahun 2018 dengan tangan dan hati yang bersih. Hati-hati dalam menyimpan kertas daftar dosa kita sebelum dibakar karena hal ini RAHASIA.
Setelah selesai merenungkan dan menuliskan dengan tidak terburu-buru, ambil waktu malam hari sebelum memasuki 29 Desember 2017 kita membakar kertas-kertas ini dengan tekad untuk melupakan dan meninggalkan masa lalu kita. Pastikan dalam langkah ini, kita benar-benar mengakui dengan rendah hati, minta ampun dan bawa hati dan komitmen untuk bertobat.

(2)               AGENDA 29 DESEMBER 2017 – MENGERTI APA MAU TUHAN
Pesan TUHAN bisa berupa nasehat TUHAN, tapi bisa juga berupa detail jani-janji TUHAN. Siapkan 12 kertas kosong, tulis di bagian atas kertas ini nama-nama bulan dari januari 2018, februari 2018 dst sampai desember 2018. Ambil waktu doa khusus untuk meminta TUHAN memimpin dan membuat kita mengerti tentang rencana TUHAN dan janji-janji TUHAN bagi hidup kita di tahun 2018. Jangan takut salah untuk mendengar suara-NYA dan mengerti agenda-NYA untuk hidup kita masing-masing di tahun depan.
Jangan terburu-buru untuk memiliki saat pribadi dengan TUHAN untuk mengerti DIA membukakan hal-hal di depan dalam hidup kita.
Yeremia 33:3 ”Berserulah kepadaKU, maka AKU akan menjawab engkau dan akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak kauketahui”.
Percayalah ketika dengan bersungguh hati berseru kepada-NYA minta dituntun PASTI DIA akan tuntun kita mengerti hal-hal ke depan. Semua yang kita mengerti dan dapatkan, mari kita tuliskan di kertas-kertas tersebut sesuai dengan waktu bulan-bulan yang ada.

(3)               AGENDA 30 DESEMBER 2017 – MENYUSUN APA MAU KITA
Sekarang kita ambil waktu khusus untuk merenungkan dan menuliskan dengan warna pena berbeda warna dalam 12 kertas yang telah kita pakai di tanggal 30 desember.
Sekarang ini kita waktu nya menuliskan keinginan-keinginan dan rencana-rencana kita untuk tahun 2018.
Jangan terburu-buru untuk membuat perencanaan 2018 ini karena kita lagi menyusun RENCANA BESAR, MIMPI dan TARGET kita untuk 2018.

(4)               AGENDA 31 DESEMBER 2017 – MINTA PENYERTAAN TUHAN
Hari ini adalah hari terakhir di tahun 2017, waktu yang paling indah untuk kita membawa semua perencanaan, janji-janji TUHAN yang kita pahami dan seluruh hidup kita untuk kita serahkan dalam tangan TUHAN dan meminta penyertaan TUHAN.
Mari kita renungkan 2 ayat firman TUHAN ini:
a.         Yakobus 4:13-17
Kita tidak tahu dengan pasti hal-hal apa yang kelak terjadi di depan kita, tapi sungguh sangat baik jika menyerahkan dalam tangan kasih-NYA.
b.         Keluaran 33:15
Musa pernah menaikkan doa yang sangat merindukan disertai oleh-NYA dalam perjalanan melangkah ke depan. Mari sama-sama hari ini kita khususkan waktu untuk membangun mezbah (Pray, Praise and Worship) dan meminta penyertaan-NYA bagi langkah2 hidup kita di tahun 2018

NOTES :
Jika di antara kita memang sudah ada acara pada tanggal 28, 29, 30 atau 31 desember 2017, doa akhir tahun sesuai urutan agendanya bisa dicicil mulai dari sekarang atau besok.
Jauh lebih baik untuk menyediakan satu hari untuk khusus satu topik doa akhir tahun sehingga tidak ada nilai terburu-buru dalam kita membenahi dan membuat persiapan diri memasuki tahun 2018.

Mari sama-sama kita renungkan cerita ini:

~ SELALU ADA PILIHAN ~
Ada 2 buah bibit tanaman yang terhampar di sebuah ladang yang subur.
Bibit yang pertama berkata, “Aku ingin tumbuh besar. Aku ingin menjejakan akarku dalam-dalam di tanah ini dan
menjulangkan tunas-tunasku di atas kerasnya tanah ini. Aku ingin membentangkan semua tunasku untuk menyampaikan salam musim semi. Aku ingin merasakan kehangatan matahari dan kelembutan embun pagi di pucuk-pucuk daunku.” Dan bibit itu tumbuh, makin menjulang.
Bibit yang kedua bergumam, “Aku takut. Jika kutanamkan akarku ke dalam tanah ini, aku tak tahu, apa yang akan kutemui di bawah sana. Bukankah di sana sangat gelap? Dan jika kuteroboskan tunasku ke atas, bukankah nanti keindahan tunas-tunasku akan hilang? Tunasku itu pasti akan terkoyak. Apa yang akan terjadi jika tunasku terbuka dan siput-siput mencoba untuk memakannya? Dan pasti, jika aku tumbuh dan merekah, semua anak kecil akan berusaha untuk mencabutku dari tanah. Tidak, akan lebih baik jika aku menunggu sampai semuanya aman.” Dan bibit itupun menunggu, dalam kesendirian. 
Beberapa pekan kemudian, seekor ayam mengais tanah itu, menemukan bibit yang kedua tadi, dan mencaploknya segera.
Memang selalu aja ada pilihan dalam hidup. Selalu saja ada lakon-lakon yang harus kita jalani. Namun, seringkali kita berada dalam sikap pesimis, kengerian, keraguan, dan kebimbangan- kebimbangan yang kita ciptakan sendiri. Kita sering terbuai dengan alasan-alasan untuk tak mau melangkah, tak mau menatap hidup. Karena hidup adalah pilihan, maka pilihlah dengan bijak.
Kita saat ini sudah akan memasuki beberapa hari terakhir di 2017, suatu pilihan bagi kita untuk mau SERIUS menjadi BIJAKSANA mengakhiri tahun dan memulai tahun yang baru dalam pimpinan TUHAN, ataupun sebaliknya... itu semua pilihan kita...

SELAMAT mengoreksi diri dan menata RENCANA BESAR Anda untuk tahun 2018.
 TUHAN YESUS memberkati kita semua...


-Jawatan Profetik GBI Miracle Service Yogyakarta-

Monday, 16 October 2017

Anak Tuhan Menyimpan Kepahitan? Serius, Lo?

20:52
Image result for forgive


Kepahitan. Hal yang dapat membuat seseorang berubah. Beberapa di antara kita pasti pernah merasakan adanya kepahitan di dalam hati. Entah kepada orangtua, teman, bahkan kepada diri sendiri. Kepahitan yang dipendam lama pasti berdampak buruk pada kondisi hidup kita, terutama hati dan perasaan. Nah, terus apa yang harus dilakukan apabila kita sebagai anak Tuhan menyimpan kepahitan di dalam hati kita?
Ada cerita tentang kepahitan yang diibaratkan dengan kentang. Jika kita punya satu kepahitan, bawalah satu kentang kemanapun kita pergi dan jangan tinggalkan. Jika kepahitan bertambah, tambahkan juga jumlah kentang sesuai dengan jumlah kepahitan kita. Apa yang terjadi setelah sekian lama? Kentang-kentang itupun pasti akan membusuk. Demikian juga kepahitan kita, yang apabila disimpan dan dibawa kemanapun, akan membusuk di dalam hati kita.
Sebagai anak Tuhan yang mulai dewasa, pasti mengalami naik-turunnya emosi. Bahasa kerennya, labil. Emosi mudah sekali tersulut, apalagi ditambah dengan kondisi yang sedang dalam pencarian jati diri, hihihi. Dalam Pengkhotbah 7:9, tertulis “Janganlah lekas-lekas marah dalam hati, karena amarah menetap dalam dada orang bodoh”. Nah, bagi anak-anak muda yang mudah sekali terguncang hatinya, pasti sering juga dikatain baperan. Bawa perasaan sebenarnya baik, tapi lihat-lihat situasi. Misalnya, bawa perasaan ketika ada seseorang yang kesulitan dan membutuhkan bantuan, maka kita membantunya dengan ketulusan. Berbeda jika bawa perasaannya negatif, sedang diberi kritik yang bagus dan membangun demi kebaikan, malah marah dan kepahitan karena sakit hati. Ingat, dalam Pengkhotbah 7:9 sudah diingatkan bahwa amarah menetap dalam dada orang bodoh, lho!
Rupanya, kepahitan yang ada dalam diri kita bisa menghambat pembaharuan diri kita. Wah, seram juga ya, dampak kepahitan! Bisa merugikan diri sendiri. Contoh, kita menyimpan benci pada seseorang. Istilah gaulnya, kita jadi haters orang tersebut. Haters pasti akan mengawasi dan mengamati segala tingkah laku orang yang dibenci, bukan? Segala inci hidupnya akan dikomentari. Kapan haters itu mau bertumbuh, jika waktunya dihabiskan untuk mengomentari hidup orang lain? Nah, pas banget nih di Efesus 4:23, 31 juga sudah mengingatkan kita. Efesus 4:23 “supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu” dan Efesus 4:31 “Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan”. Dengarkan, Tuhan sudah mengingatkan bahwa jika kita menyimpan kepahitan, sulit buat kita upgrade diri sendiri ke next level!
Kenapa kepahitan bisa berdampak seram ya? Padahal kan, masih banyak hal yang lebih serem daripada menyimpan kepahitan? Membunuh misalnya? Eits, kata siapa kepahitan gak kalah serem dari dosa lainnya? Yuk dibuka dan ditandai Ibrani 12:15. Dalam Ibrani 12:15, tertulis bahwa “Jagalah supaya jangan ada seorang pun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang”. Nah, tidak ada dosa yang lebih seram kan? Semua dosa yang berakar dalam hati itu seram guys, karena efek buruknya dapat berdampak ke semua orang.
Nah, sebagai anak Tuhan yang baik hati dan tidak sombong, masih mau kah kita menyimpan kepahitan? Kepahitan bagaikan sampah, bisa busuk dan bau jika disimpan terus menerus. Yuk, kita mengampuni sesama kita, yang menimbulkan kepahitan baik yang disengaja maupun tidak disengaja. Walaupun mengampuni itu tidak mudah, ingatlah bahwa Tuhan pun sudah memberi kita contoh dalam hal mengampuni. Maukah kita mencontoh dan terus memikul salib kita, meneladani hidupNya? "Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan. Jagalah supaya jangan ada seorang pun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang." (Ibr 12:14,15)


Ditulis Oleh : Rucita W.